Prabowo, Antara Harapan dan Kecemasan

Oleh: Nuim Hidayat | Direktur Forum Studi Sosial Politik Islam.

TANGGAL 22 April 2024 kemarin, Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan pasangan Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud untuk membatalkan pasangan Prabowo-Gibran (02) sebagai pemenang pemilu 2024. Artinya pasangan 02 ini telah sah menjadi presiden RI 2024=2029. Tinggal menunggu pelantikan nanti di bulan Oktober 2024.

Prabowo memang tokoh yang kontroversi. Ketika banyak pendukungnya (mayoritas umat Islam). mengharapkan ia beroposisi dengan presiden Jokowi (2019), justru ia bersedia menjadi bagian kabinet Jokowi. Meskipun prestasinya sebagai Menteri Pertahanan biasa saja, tapi pertemuannya yang cukup inten dengan Jokowi, menjadikan Jokowi percaya kepadanya dan meninggalkan Megawati.

Jokowi memang kecewa berat dengan Megawati. Meski ia didukung sebagai gubernur dan presiden oleh Megawati, tapi sikap Mega yang sering merendahkan dirinya menjadikan ia tidak ‘enjoy’ dengan Mega. Jokowi merasa lebih nikmat bergaul dengan Prabowo. Ia merasa setara dan bahkan bisa ‘mengendalikan’ Prabowo.

Kemenangan Prabowo yang didukung penuh Jokowi, juga menimbulkan kontroversi. Media-media Barat dan tanah air menyorot tentang kecurangan pemilu presiden 2024 kali ini. Begitu juga MK tidak bulat menetapkan pemilu kali ini jujur dan adil. Ada tiga hakim MK yang melakukan dissenting opinion.

Bagaimana profil Prabowo yang akan menduduki jabatan presiden 2024-2029 nanti?

Prabowo lahir pada 17 Oktober 1951 di Jakarta. Ia adalah anak Begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo. Masa kecilnya banyak dilewatkan di luar negeri bersama kedua orangtuanya. Setelah lulus dari AKABRI di Kota Magelang pada tahun 1974 sebagai seorang letnan dua, ia menjadi salah satu komandan operasi termuda dalam sejarah Angkatan Darat saat memimpin operasi Tim Nanggala di Timor Timur. Kariernya melejit setelah menjabat sebagai Wakil Komandan Detasemen Penanggulangan Teror di Komando Pasukan Khusus pada tahun 1983.

Pada tahun 1996, Prabowo diangkat sebagai Komandan Jenderal pada korps tersebut. Saat menjabat, ia memimpin operasi pembebasan sandera di Mapenduma. Ketika Presiden Soeharto, ayah mertuanya, dilengserkan pada bulan Mei 1998, Prabowo sedang menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis. Setelah diberhentikan dari dinas militer, Prabowo menghabiskan waktu di Yordania dan di beberapa negara Eropa.

Ayahnya merupakan seorang pakar ekonomi dan politisi Partai Sosialis Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Perindustrian di Kabinet Natsir; pada April 1952. Tidak lama setelah kelahiran Prabowo, Soemitro diangkat kembali sebagai Menteri Keuangan pada Kabinet Wilopo. Prabowo memiliki dua orang kakak perempuan, Biantiningsih Miderawati dan Maryani Ekowati; dan seorang adik lelaki, Hashim Djojohadikusumo.

Dari keluarga ayahnya, Prabowo merupakan cucu dari Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank Negara Indonesia dan Ketua Dewan Pertimbangan Agung yang pertama. Nama pertamanya diambil dari pamannya, Kapten Soebianto Djojohadikoesoemo, seorang perwira Tentara Keamanan Rakyat yang gugur pada Pertempuran Lengkong pada Januari 1946 di Tangerang. Keluarga Djojohadikusumo sendiri dikatakan merupakan keturunan dari Raden Tumenggung Kertanegara atau Pangeran Banyakwide dari Karanganyar (Kebumen), seorang yang pernah menjadi Bupati Karanganyar Roma (sekarang Kebumen) sekaligus panglima laskar Pangeran Diponegoro di wilayah Kedu; dan Adipati Mrapat atau Raden Joko Kaiman, bupati Banyumas yang pertama.

Masa kecil Prabowo banyak dihabiskan di luar negeri, terutama setelah keterlibatan ayahnya menentang pemerintah Presiden Soekarno di dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia di Sumatera Barat. Prabowo menyelesaikan pendidikan menengahnya di Victoria Institution di Kuala Lumpur, Malaysia; Zurich International School di Zurich, Swiss; dan The American School di London, Inggris. Baru setelah kejatuhan Soekarno dan naiknya Soeharto, keluarga Soemitro kembali ke Indonesia, dan Prabowo masuk ke AKABRI di Magelang, Jawa Tengah. Karena pengalaman sering di luar negeri, Prabowo kabarnya fasih berbahasa Indonesia, Prancis, Jerman, Inggris, dan bahasa Belanda.

Prabowo dan Umat Islam

Prabowo memang dikelilingi keluarga lintas agama. Perkenalannya dengan Islam, adalah lahir dari kesadaran sendiri dan pengalamannya dalam politik dan militer. Sebelum presiden Soeharto lengser, ia dikenal sebagai seorang perwira yang berbeda pandangan dengan jenderal TNI yang berpengaruh saat itu, Benny Moerdani.

Saat itu Prabowo merasa janggal dengan kelakuan Benny yang cenderung Islamofobia. Di zaman Benny lah umat Islam banyak menderita. Tragedi Aceh, Lampung, Tanjung Priok dan lain-lain terjadi di masa Benny ‘berkuasa’. Prabowo protes dengan semuanya itu. Sehingga akhirnya ia difitnah dan dianggap turut andil dalam kerusuhan Mei 1998. Ia kemudian dicopot dari jabatan militernya karena dianggap terlibat dalam penculikan aktivis reformasi 1998. Ia kemudian ke luar negeri dan banyak menghabiskan waktunya di Yordania. Ketika Megawati jadi presiden, Prabowo kemudian dipanggil kembali ke tanah air.

Tahun 2008, Prabowo bersama Fadli Zon, Hashim dan lain-lain membentuk Partai Gerindra. Tahun 2009, Prabowo maju sebagai cawapres mendampingi Megawati sebagai capres. Tapi pasangan ini keok dikalahkan SBY-JK dengan suara sekitar 60%.

Tahun 2014 dan 2019, Prabowo maju lagi sebagai capres. Tahun 2014 bergandengan dengan Hatta Rajasa dan tahun 2019 bergandengan dengan Sandiaga Uno. Dalam dua pemilu itu, ia pun kalah telak dikalahkan capres Jokowi. Padahal saat itu mayoritas tokoh-tokoh Islam di tanah air mendukung Prabowo.

Harapan dan Kecemasan

Kehidupan Prabowo yang banyak dilewati di dunia Barat, diharapkan Prabowo menjadi Muslim yang demokrat. Prabowo diharap menjadi seorang demokrat yang tidak menindas umat Islam dan melindungi umat non Muslim. Ia diharap menerapkan demokrasi proporsional, berlawanan dengan pendahulunya Jokowi yang cenderung bertindak tiranik. Banyak kebijakan Jokowi yang merugikan umat Islam, seperti menangkapi aktivis dan dai-dai yang menyerukan keislaman dan keadilan. Di samping kebijakan luar negerinya yang pro Cina, menjadikan banyak tenaga kerja Cina migrasi ke Indonesia.

Inner circle Prabowo memang beda dengan Jokowi. Bila Jokowi banyak aktor-aktor Islamofobia yang mengelilinginya, Prabowo tidak. Bermacam-macam orang dengan perbedaan ideologi mengelilingi Prabowo.

Sehingga Anies Baswedan yang mengaku kalah dalam pemilu 2024 ini, mengakui Prabowo sebagai seorang patriot. Ya Prabowo berkali-kali menorehkan prestasi sebagai seorang patriot sejati. Potret Jenderal Sudirman yang digantungkan dekat meja kantornya (rumahnya), adalah bukti bahwa ia ingin meniru jiwa kepahlawanan Jenderal Sudirman yang hingga akhir hayat membela tanah air melawan penindasan penjajah Belanda.

Kecemasan public bila Prabowo presiden, ialah karena ia produk pemilu yang tidak bersiih (curang). Tentu ia tahu hal itu dan terkesan menikmatinya. Di samping itu kegagalan proyek Food Estate menunjukkan Prabowo bukan seorang manajer yang baik.

Selain itu, publik mengkhawatirkan sikap emosional Prabowo yang kadang tidak terkendali. Ia sering menggebrak-gebrak meja bila marah. Dikhawatirkan itu akan terjadi pada sidang kabinet yang nanti sering ia pimpin.

Walhasil, Prabowo punya plus dan minus. Intelektualnya plus, tapi emosionalnya kadang-kadang minus. Semoga nanti ketika ia menjadi presiden bisa mengerem emosinya dan ia bisa menerapkan keadilan di Indonesia.

Umat Islam di tanah air hanya berharap mereka tidak ditindas lagi. Mereka diberikan kesempatan yang sama untuk membangun negeri ini.

Sebagai seorang Muslim demokrat Prabowo diharapkan tidak mengecewakan umat Islam yang merupakan mayoritas di negeri ini. Wallahu azizun hakim. []

Penulis: No Perfect

MENGAPA KEJAHATAN selalu bisa kompak BERSATU? Karena, KEBENARAN tidak pernah membutuhkan SEKUTU!”

Tinggalkan komentar